Rabu, 21 September 2016

KENAL DENGAN JONRU ?

Ok brothers, gini..
Bagi yang belum kenal ama Jonru, ada baiknya loe jangan kenalan. 'Cause ntar loe jadi ga enak tidur, ga enak makan, dan bisa jadi loe ampe ga enak ngopi.

Jonru itu orang yang penuh mistik, bisa bangunin loe yang lagi tidur pules cukup hanya dari sosmed, ajaib banget kan. Ga hanya itu, jonru juga bisa bikin loe mendadak ga mood maen game online dan mood loe tiba-tiba pengen ke monas.

Loe jangan terpengaruh tuh ma jonru, kalo terpengaruh ntar loe jadi kritis. Loe tau kan kritis nya jonru itu gimana?. Yupzz betul, jonru itu kalo ngelihat realitas ga pake dengkul, dia ogah kalo cuma cuek lihat yang ga beres. Dia ga suka kalo pejabat negara korup, mentingin golongan, mentingin penggusuran, mentingin perusahaan pribadi, termasuk mentingin yang ga penting, dst.

Kan jarang banget ada orang yang seperti jonru, kalo jonru ga suka ma yang begituan, yang laen sih mungkin slow and biasa-biasa aja, ya kan?!.

Kalo jonru nonton TV lihat berita tentang penggusuran, jonru pasti nyari tau tuh. Kenapa di gusur?, kok di gusur?, siapa yang gusur?, untuk apa di gusur?, untuk siapa di gusur??.

Coba kalo yang laen nonton TV, ada berita tentang penggusuran, malah di anggap hiburan. Parahnya lagi, udah ga mau tau, chanel nya di pindah ke sinetron yang lagi ngerebutin warisan, atau lebih memilih nonton iklan, hahaha.

Menurut gw sih, jonru jangan ampe loe calonin jadi presiden. Karna kalo jenis jonru ini jadi presiden, loe bisa bayangin kan, negara kita bakal di pimpin oleh orang yang bakal bikin loe bilang wouww kern!

Haha, let's rock!

ORANG PINTAR NAIK KELEDAI

Kita sebagai rakyat pribumi yang sudah berhasil merdeka, tapi mengapa kita tidak berdaya untuk mengatur dan menciptakan kesejahteraan sebagaimana mestinya yang telah tertuang dalam pancasila dan UUD'45.

Seharusnya orang asing itu tamu disini, bukan raja! bukan wakil raja! bahkan bukan RT dan bukan juga wakil RT. Orang asing itu hanya tamu dan tidak lebih dari sekedar itu. Kini lihatlah, orang-orang asing itu telah menguasai tanah, pasar, gedung-gedung tinggi. Bahkan orang-orang asing itu kini mulai memerintah pejabat negara dan rakyat pribumi. Benar-benar mental pelayan yang menjijikkan, diperbudak di negri sendiri malah manut dan santun.

Ini bukan sekedar kesenjangan atau kecemburuan sosial, ekonomi, moral, bukan juga tentang SARA. Ini sama-sekali bukan tentang HAM versi orientalisme. Mereka ga usah ngomong hak asasi manusia, omong kosong itu semua, mereka juga ga pernah memanusiakan manusia pribumi.

Gue pernah denger mereka itu ngaku banget keturunan monyet, dan mereka itu pengen banget di akui sebagai keturunan monyet. Loe tau kan monyet?! Kalo ga tau, makanya loe ngaca!. Monyet itu rakus dan serakah, licik juga picik. Nenek moyang kita udah wanti-wanti dengan "dongeng legend" agar kita harus jadi kancil saat ngadepin monyet.

Bukankah segala macam bentuk penjajahan dan penindasan itu harus di hapuskan. Tapi, ketika pribumi melakukan tindakan pembebasan diri dari cengkraman asing di anggap melanggar hak asasi manusia. Sementara tamu-tamu asing itu dengan leluasa merampas hak asasi manusia pribumi. Terutama merampas hak ekonomi, hak untuk kesejahteraan, dan masih banyak hak-hak yang lainnya yang juga di rampas.

Kalo pun, rakyat pribumi belum mampu sepenuhnya dalam mengelola dan memajukan negaranya. Bukan berarti kemudian diperlakukan secara tidak manusiawi. Di eksploitasi, di jajah secara ekonomi, dan di perbudak serta di tindas di negrinya sendiri.

Gue jadi inget kisah kern nabi Hidir saat mengajari nabi Musa, ketika memperbaiki dinding rumah anak kecil yatim-piatu yang rusak. Karna kalo dinding rumah itu ga di perbaiki harta peninggalan orang tua untuk si anak akan terlihat dan pasti akan dirampas oleh orang yang bahlul.

Ok, lanjut..!
Dulu sebelum kita merdeka, rakyat pribumi hidup sengsara dalam jajahan orang-orang asing. Rakyat menderita lahir dan batin, miskin, diperbudak, diperbodoh, dan di perkosa hak-haknya, serta diperlakukan seperti binatang.

Lalu, berpuluh-puluh tahun hingga ratusan tahun rakyat berjuang mengusir penjajah. Ratusan, ribuan, bahkan jutaan rakyat menjadi mayat. Belum lagi, para alim ulama dan para guru ngaji yang di penjarakan paksa, di siksa, dicabut habis kuku-kukunya. Dan yang paling gue ga terima, gadis-gadis desa direnggut kecantikan dan keperawanannya, hasil bumi yang telah susah-payah rakyat kerjakan hingga meneteskan keringat darah dirampas dan diangkut ke negri mereka.

Kini setelah merdeka dengan masih menyimpan segunung dendam, rakyat hidupnya masih sengsara. Kemerdekaan ternyata hanya sekedar semilir angin surga.

Orang-orang asing mengenakan topeng datang dan bertamu lagi, kemudian berhasil lagi menguasai ekonomi negri ini sambil tertawa di atas kuburan para pahlawan bangsa kita.

Kini para tentara bengong, terutama kopral Jono. Sambil nunjukin muka begonya temennya kopral Jono bertanya ke gue : Rakyat pribumi kok sekarang malah jadi tamu? Rakyat pribumi kok banyak yang menderita?, Rakyat pribumi kok banyak yang kelaperan?, Rakyat pribumi kok malah yang di gusur?, Rakyat pribumi kok jadi tambah miskin?. "Wuah wuah wuah... Merdeka kok koyok ngene dadi ne, kan londo ne wes ora ono".

Sorry, dalam imajinasi gue, temennya kopral Jono itu orang jawa, hahaha.
Ok, Lanjut lagi...!

Orang lemah, miskin, kurang pendidikan, mestinya dilindungi dan diberdayakan. Rakyat kecil tidak banyak tau dengan apa yang penguasa lakukan, rakyat kecil tidak tau apa-apa yang orang pintar lakukan, rakyat kecil hanya selalu berharap uluran tangan dan kasih-sayang.

Terus gimana dong?!
Mana gue tau, kan loe yang lebih tau ketimbang gue. Gue itu cuma satu dari ratusan juta rakyat negri ini, sama juga nasibnya kyak yang laen.

Yeahh kirain udah siap bikin bambu runcing!!

Hehh, Loe jangan kemakan omongan gue, gue itu cuma temen loe yang ngerokok aja masih nebeng. Kecuali kalo gue presiden.

Emangnya knapa kalo presiden??

Kalo gue presiden nih, gue pasti berani bilang;
Hehh binatang! Jangan perlakukan rakyat kecil pribumi gue seperti binatang! Karna sebetulnya kita bisa sama-sama jadi binatang!

Bengong!

GUMPALAN DI DADAMU ITU APA

Sebenarnya bukan si budi yang ga mampu bersungkem santun, dapet nilai bagus, ga pernah terlambat, dll. Tapi udah sejauh mana pak guru berani dengan jujur mengakui ketidakberdayaannya sebagai guru, saat memposisikan si budi dipuncak tertinggi untuk harapannya dimasa depan.

Jelas prihatin jika gaya feodal hari ini masih digunakan untuk memperlakukan si budi saat menerima hukuman. Hukuman hanya hukuman tanpa penjelasan yang jelas, tentu saja sangat sulit untuk budi pahami. Sedangkan pak guru merasa leluasa menunjukkan statusnya sebagai guru saat menghukum si budi. Sementara realitas perubahan jaman harus juga budi hadapi, aturan yang tidak berupa aturan ternyata ada di urat nadinya "gumam budi".

Si budi itu memang masih ceroboh, egois dan penuh semangat. Sudah waktunya pulang sekolah pun si budi masih ingin berada di sekolah, ya apalagi kalo bukan bermain. Walau kerapkali over dalam proses penyempurnaan identitas jati dirinya, tapi si budi berharap untuk tidak dihukum.

Seperti biasa, hari minggu pak guru libur. Si budi tetep ke sekolah mengenakan pakaian biasa dan tetap bersepatu. Dia berteman baik dengan anak penjaga kantin di sekolah itu. Sesekali mereka mengintip sambil memanggil-manggil kedalam kelas kosong melalui kaca jendela yang tak sengaja ia pecahkan dengan lidahnya. Si budi berteriak-teriak "Pak guru jangan hukum budi dong, kalo berani hukum aja tuh kepala sekolah", mereka berdua pun tertawa.

Hahaha, ok lanjut !
Pak guru juga manusia, apalagi muridnya. Pak guru seharusnya lebih memposisikan si budi sebagai penyambut utama estapeta perjuangannya dengan lebih menanamkan rasa percaya diri, bukan malah membunuh karakternya dengan nilai-nilai feodalisme yang jelas-jelas barbar. Ini bukan tentang guru yang galak ketika muridnya melakukan kesalahan fatal. Tapi banyak juga guru-guru yang angkuh dan sok hirarki, seolah-olah tidak memandang penting muridnya, dll.

Sikap feodal itu memiliki kecenderungan jahiliyah yang kuat dan bersifat ingin di pertuan, dsb. Tentu saja si budi bingung menghadapi situasi dan kondisi yang begitu.

Si budi terdiam, hatinya mulai bertanya-tanya "mengapa pak guru tidak bisa untuk tidak menghukumnya?", "bukankah pak guru adalah pak guru yang pintar?, gerutunya".

Pak guru benar-benar berada dipersimpangan yang sangat menyebalkan bagi si budi, yang lebih memilih untuk tidak memaafkan muridnya.

Hingga akhirnya, dalam keputus-asaan yang mendalam pak guru pun menuduh si budi sebagai generasi "rock`n roll". Mungkin agar dikemudian hari lebih mudah menyalahkannya lagi dan lagi, agar terasa lebih halal saat menghukumnya.

Teman si budi pun berbisik "pak guru mungkin lupa, bukankah budi terlahir ke dunia ini untuk meneruskan dan untuk mewujudkan cita-cita pak guru, pak guru sebelumnya, pak guru sebelumnya lagi, dan pak guru-pak guru yang sebelum-sebelumnya". Si budi pun mengangguk, tanda bersemangat.

Selamat berjuang budi-budi kecil, tetap hormati pak gurumu dan teruslah mengintip dan berteriak-teriak di kelas yang kosong. Teruslah meneruskan perjuangan pak guru, walau pun pak gurumu telah menuduhmu sebagai generasi rock`n roll.

Bukankan kita sudah sama-sama belajar, bahwa sebesar apapun lingkaran yang ada di jagad raya ini dan sekecil apapun lingkaran di dunia ini tetap saja luas lingkarannya sama-sama 360 derajat.

Biarlah pak guru masih ingin tampak lebih besar darimu yang kecil.
Adiknya Wati, si budi.

MONOLOG ANTAGONIS

Paradigma kebanyakan orang indonesia, sekolah itu buat cari kerja di kota biar ntar hidupnya enak. Begitu itu ga tau udah dari kapan ampe skarang. Apalagi bisa jadi pegawai negri, wuah ini pasti bikin tumpeng, potong kambing ngundang tetangga se RT.

Kebayang ga sih, tujuan bersekolah buat nyari kerja biar hidupnya enak, di kota. Apa itu salah?! tentu saja tidak. Lalu apa yang jadi permasalahannya?.

Ok gini brother...
Loe tau kan paradigma itu apa? Betul, "paradigma adalah sekumpulan keyakinan dasar yang membimbing tindakan manusia".

Coba, kalo misalnya paradigma masyarakat indonesia tentang bersekolah itu "adalah" keilmuan untuk membangun dan memajukan negara. Tentu akan sangat berdampak pada pola pikir dan daya juang masyarakat yang pastinya sangat wouw.

Wouw yang gimana nih...?
Gini brother, dengerin nih! pola pikir dan daya juang itu, akan meminimalisir kepribadian yang egois dan yang paling penting adalah tidak terkikisnya budaya "gotong-royong" yang itu merupakan sebagai identitas unggul bangsa indonesia.

Persekolahan juga mestinya harus mengalami perkembangan dan kemajuan secara khusus. Baik metode, sistem, termasuk juga keilmuan dan pengetahuannya, agar persekolahan berfungsi multi manfaat.

Coba perhatikan lebih serius lagi dan dikaji dengan lebih mendalam. Orang-orang berpolitik demi kepentingan pribadi, hanya sedikit orang saja yang mau memajukan negara ini. Segelintir orang itu pun akhirnya di bully dan disingkirkan beramai-ramai.

Pandangan mencari kerja biar hidup enak, di kota! ini benar-benar racun dari generasi ke generasi. Masyarakat jadi kurang peduli terhadap situasi dan kondisi negaranya. Orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing, kalo pun peduli pasti ada maunya, maunya apa? ya balik lagi ke kepentingan pribadi itu tadi.

Sekarang mau bilang apa?
Orang kaya pribumi nyimpen hartanya diluar negri, sekolahnya ke luar negri, liburannya keluar negri. Tokoh elitnya kongkalingkong dengan orang luar negri, jual kelemahan bangsanya sendiri demi kepentingan pribadi.

Idiot dipelihara, kekayaan pribumi disimpen diluar negri, giliran orang asing menguasai ekonomi di dalam negrinya, eh ga terima. Bilang kalo modal asing kapitalislah, konspirasilah, bedebahlah, omong kosong loe bisa!

Negri gemah ripah lohjinawi, yang katanya batu dan tongkat jadi tanaman, hanya gara-gara paradigma persekolahan untuk cari kerja biar hidup enak di kota, negara jadi semerawut dan ga karu-karuan.

Jangankan berkontribusi untuk negara, milik negara yang kondisinya udah sekarat pun masih dikorupsi untuk kepentingan pribadi. Monyet-monyet berdasi, norak dan ga tau diri.

Kembalikan belajar untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan, kembalikan gotong royong untuk membangun kebersamaan dan peradaban, kembalikan persekolahan untuk keilmuan dan pengetahuan. Bangun negara, bela negara, bangkitkan budaya bangsamu dengan paradigma-paradigma yang benar. Apakah masih kurang cukup dendammu pada dirimu sendiri hingga kau pun masih harus menghancurkan masa depan generasi setelahmu.

Siapa yang harus mengembalikan?
Kalau bukan kita, ya siapa lagi!! Kembalikan oleh dirimu sendiri kepada dirimu sendiri untuk negrimu sendiri.

Caranya gimana?
Caranya mudah, mari kita ngopi, abis itu tidur!!

TELANJANG DIRUANG GELAP

Pemimpin hebat, harus juga di topang oleh para bawahan yang hebat, solid dan kompak. Bakal percuma dan sia-sia kalo sang pemimpin hebat tapi yang dipimpinnya khianat. Hal ini juga berlaku dalam konteks kebalikannya.

Bicara fakta, bicara data, bicara bukti, bicara dan terus-terusan bicara merupakan cara kita hidup di dunia kontemporer saat ini.

Banyak hal yang udah berubah di dunia ini, dan teknologi mendominasi berbagaimacam perubahan-perubahan tsb. Digitalisasi merubah jarak jauh menjadi dekat, jarak dekat menjadi sangat jauh. Bahkan alam sosial media telah berhasil merubah pecundang sejati jadi pemberani, muka ancur berani godain cewe cantik via inbox message. "Hai cantik, lagi ngapain, kenalan yuk". Dijawab ma si cantik "Ogah! Ngaca gih!! Idiih ga banget!!". Hahaha

Dalam hal lain, coba sesekali loe sempetin baca komentar-komentar di sosmed tentang opini calon pemimpin misalnya. Antara pihak pro dan kontra, isinya bikin loe ga nyangka. Bukan hanya "gagal paham" tapi akan lebih tepatnya "runtuhnya peradaban". Itu baru berkaitan dengan seseorang yang ngejagoin idolanya, anjing-babi dan monyet dipake buat ngata-ngatain yang di idolain lawannya. Belum lagi kalo pas ketemu isu tentang agama, udah deh ga bakalan ada yang sisa, setan, bangsat, kafir, antek yahudi, ga punya otak, dll.

Generasi digital indonesia, generasi sosmed yang dengan segala kemerosotan moralnya, etika dan estetikanya ga tau disimpen buat apa.

Penulis berita pun begitu, parahnya lagi ada dari beberapa media terkemuka tanah air.

Ada kesengajaan bikin judul yang bikin otak jadi otak udang. Misalnya "tolak tawaran dari perusahaan ternama, pemuda ini mengaku ingin lebih fokus menganggur". Ada lagi berita yang judulnya "cewe muka kuning tewas, masturbasi pake belut".

Gue pernah penasaran setengah mati, gue baca deh itu berita yang judulnya "Akhirnya terungkap, siapa sebenarnya pelaku pembunuh Mirna". Itu berita, gue baca ampe abis, ampe mata gue bengkak cuy! Ehh isinya tentang polisi masih berusaha mengungkap kematian Mirna. Kalo waktu itu yang nulis berita ada di depan gue, gue jamin! Bakal abis tuh mukanya gue obrak-abrik!

Ok, walo pun begitu kita ga boleh pesimis dengan kondisi dan keadaan moral negri kita yang bener-bener sedang morat-marit. Sebisa mungkin kita harus tetap berusaha mencari solusi dan memperbaikinya satu-persatu.

Modernisasi, westernisasi, digitalisasi, globalisasi dan sasi-sasi yang lainnya tidak masalah. Masalahnya ada pada diri loe sendiri, mana yang baik dan bermanfaat maka itulah yang harus loe tempuh. Perjuangan bisa dimulai kapan saja, dan jangan loe tanyain kapan perjuangan itu akan selesai.

Hiasi lidah dengan cahaya-cahaya yang udah banyak loe denger, loe baca, and loe yakini. Loe ga perlu ikut-ikutan sok pinter kalo loe belum bener-bener pinter. Loe ga usah ikut-ikutan ngebully orang di sosmed, loe juga pasti tau kapasitas otak loe yang cuma segitu-gitunya. Ga usah ngelakuin hal-hal yang bikin loe boros sesumbar, ga mutu dan ga penting. Sadar diri itu akan lebih bikin loe berkualitas, kalo loe dari kampung ya bercocok tanamlah dengan semangat di kampung. Kalo loe dari kota dan ngerasa kota udah sempit, ya silahkan ke desa. Bangun perkebunan, pertanian, dll, gunakan otak kota loe buat ngembangin dan majuin kemanusiaan loe secara bijaksana.

Loe tau pemimpin sejati itu apa?
Yupzz, pemimpin sejati itu adalah diri loe sendiri. Loe ga usah nyari-nyari pemimpin yang ga ada, jadikan dirimu pemimpin oleh dirimu sendiri. Persiapkan anak-anakmu untuk siap menjadi pemimpin yang handal, profesional dan militan. Nusantara ini negri yang besar, tentu harus juga dipimpin oleh orang-orang yang berjiwa besar, memiliki kemampuan ilmu dan pengetahuan Allah yang maha besar.
Jangan cuma belajar dan ngajarin cara cari duit doang, ujung-ujungnya duit jadi tujuan utama belajar.

Kalo hidup loe udah muka duitan, ya udah! makan tuh duit! Sulit ngomong ma loe yang otaknya udah duit-duit-dan duit!!

Kalo udah terlanjur begitu gimana?
Mudah cuy! bikin kopi jangan pake gula, pake aja garem, biar rasanya lebih greget!

Selasa, 20 September 2016

ADA ROKOK GA ADA KOREK

Sebuah inspirasi terlahir dari dimensi persesuaian ide dan gagasan. Persesuaian antara awal dan akhir yang rumit, yang bukan hanya sekedar berupa pemahaman final bahwa "dunia ini panggung sandiwara".

Ketajaman naluri merupakan insting terpenting dalam melakukan perenungan yang mendalam terhadap logika. Pemikiran-pemikiran merayap menyusuri puing-puing peradaban hingga menghasilkan dunia baru di dalam kepala.

Tassawuf dengan segala langkah kura-kuranya mengajakmu termenung, meraung dalam ruang-ruang dimensi yang luas tak terhingga. Merangkai rakit-rakit perjalanan menuju hulu sungai kehidupan dan kemudian menenggelamkan dirinya dalam lukisan dunia.

Pengetahuan dengan sedikit kesalahan merupakan empiris dari setiap jengkal upgrade keilmuan manusia. Daun yang gugur, angin yang berhembus, air mengalir, kerumunan semut, suara dan warna adalah kesempurnaan hidup.

Kaulah pemilik cita-cita yang selalu ternoda, yang tak mudah cukup walau telah berlebih. Di dalam setiap diri terukir cahaya sejati, setiap nafasmu adalah pinjaman untuk kau kembalikan satu persatu. Satu demi satu, hingga yang tersisa adalah habis.

Mengarungi samudera gurun di dalam jiwa pikiran, hingga pertanda memperlihatkan keagungan-keagungan sang maha pencipta. Tanah-tanah bangkit berisikan cahaya dan kau di hidupkan, kemudian kau dimatikan dengan segala cerita penyesalan yang ada.

Mudah bagiNya tapi sulit untukmu, kemudian dipermudahNya untukmu. Namun kesadaran sebagai hamba, sebagai warna dan keindahan agar kau bersyukur dan bersujud kepadaNya hanya kau anggap sebagai ajaran agama semata.

Kemudian, tiba waktunya dimana kau akhirnya merasa bangga bersujud kepadaNya. Tapi itu belum seberapa jika kau terus-menerus menyadarinya betapa kau telah benar-benar ada dari ketiadaan.
Kau pun tau, kau terlalu sibuk dengan keinginan-keinginan solusi yang kosong, tanpa mengetahui untuk apa keinginan-keinginan itu kau inginkan.

Dimana tempat kau akan tidur untuk selamanya, tak pernah kau hiraukan. Bahkan saat kau terbangun dari mimpi panjang ini, mungkin kau pun masih belum tersadar bahwa kau sudah kembali menjadi tanah.

Pernahkah kau benar-benar bersujud kepadaNya yang benar-benar tanpa diiringi oleh suatu keinginan...

Pernahkah kau benar-benar bersujud kepadaNya yang benar-benar tanpa diiringi oleh suatu harapan...
Pernahkah kau benar-benar bersujud kepadaNya yang benar-benar tanpa diiringi oleh kewajiban...
Pernahkah kau benar-benar bersujud kepadaNya karna kau benar-benar bersujud menyembahNya?

LOGO PBKBPII